Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Komunitas Saiber Muslim Trisakti

Blog EntryAug 31, '05 7:43 PM
for everyone
Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz, bagaimana Islam memandang orientasi kampus atau istilahnya Osek? Sebagian kalangan memandang bahwa hal ini diperlukan untuk menanamkan nilai-nilai kemahasiswaan, dan untuk berinteraksi/mengenal angkatan baru, juga supaya ada kenangan yang dapat diingat. Bagaimana pelaksanaan orientasi kampus di universitas-universitas Islam di timur tengah? Adakah ospek yang Islami? Dan bagi para mahasiswa baru, apakah hukumnya mengikuti ospek? Jawaban ustadz sangat kami nantikan.

Wassalam.
Firman


Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu 'ala rasulillah, wa ba'du

Meski tidak semua ospek berisi penggojlogan, tapi istilah itu memang sudah lekat dengan aktiftias perpeloncoan, di mana kakak kelas pada hari-hari itu berlagak jadi jagoan di depan adik-adik mahasiswanya. Ada yang dikerjai, dibentak, dimaki, ditertawai, dihukum ini dan itu. Meski para pelakunya sering kali berkilah bahwa semua itu dilakukan untuk keakraban dan menjadi kebersamaan.

Kalau kita bandingkan ospek di negeri ini dengan di berbagai perguruan tinggi maju di dunia Islam seperti Al-Azhar Mesir, atau Universitas Islam Madinah, atau Universitas Islam Al-Imam Muhammad ibn Su'ud Riyadh, maka kita tidak akan menemukan acara ospek seperti yang kita kenal di sini. Namun kualitas lulusannya sudah diakui oleh dunia Islam sejak lama dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Padahal dahulu mereka tidak mengalami masa ospek.

Hal-hal seperti itu justru terasa aneh dan tidak sempat terlintas di kepala mereka. Sebab memang tidak ada gunanya, baik dari sisi syariah juga dari sisi muamalah, apalagi dari sisi keilmuan dan prestasi belajar. Tanpa ospek-ospekan, perguruan tinggi disana memang telah berhasil menelurkan para ulama dan ilmuwan di bidangnya. Dunia telah mengakui keberadaan dan peran lembaga itu. Bukankah tujuan ini yang lebih utama dari pada urusan yang kurang bermanfaat?

Hubungan antara mahasiswa lama dan mahasiswa baru ditumbuhkan dengan semangat ukhuwah islamiyah yang baik, simpatik dan patut diteladani. Sedangkan di negeri ini, nyaris setiap tahun jatuh korban, bahkan nyawa pun harus melayang.

Sayang sekali karena semua itu untuk sekedar memuaskan 'libido' kesenioran yang tidak jelas ujung pangkalnya. Apalagi ospek tidak sebanding dengan kualitas lulusannya. Dan memang tidak akan pernah ada pengaruhnya kepada prestasi para mahasiswa. Sungguh pilu di dada melihat hal seperti itu. Tetapi heran sekali 'tradisi khas dunia ketiga' itu masih selalu berulang tiap tahun. Atas nama keakraban, persaudaraan, perkenalan, orientasi atau istilah-istilah lainnya. Kita akui bahwa urusan bikin istilah, bangsa kita ini memang jagonya. Tapi masalah kualitas pendidikan, kita ada di nomor belakang.

Kalau mau dibandingkan dengan akhlak Islam, seharusnya datangnya mahasiswa baru harus dianggap sebagai tamu. Bukan sebagai budak yang bisa dikerjai apa saja. Dan ajaran Islam telah menetapkan bahwa para tamu wajib dimuliakan. Rasulullah SAW sendiri telah bersabda bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir wajib memuliakan tamunya. Membentak, menghardik, mengerjai, menghukum, mencaci-maki, mengomeli, menzalimi bahkan sampai memukuli seorang tamu adalah perbuatan dosa, pelakunya diancam dengan azab yang pedih. Maka bagaimana mungkin kita yang mengaku muslim ini sampai hati melakukan tradisi jahiliyah yang tidak berpahala tapi malah bikin dosa?. Bagaimana tidak dosa, sementara Allah SWT telah berfirman dan Rasulullah SAW telah bersabda?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.(QS Al-Hujuraat: 11)

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.(QS Al-Qalam: 10-13)

Dari Abdullah bin Amr ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Seorang muslim itu adalah sosok yang orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya." (HR Bukhari)

Siapa yang mengajarkan semua itu? Mengapa tradisi jahili seperti itu harus dipertahankan? Apakah kita sudah menjadi hewan yang terpuaskan libido kebahagiaannya bila melihat penderitaan orang lain? Kemana akal dan dan moral kita? Apakah kita ingin disebutkan sebagai umat yang membangkang, karena bisanya hanya menghidupkan tradisi para pendahulu tanpa pernah bisa dengan cerdas berpikir bahwa nilai-nilai itu justru bertentangan dengan Islam. Telah digambarkan di dalam Al-Qur'an:

Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab, "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?(QS Al-Maidah: 104)

Ospek itu seharusnya diisi dengan acara yang mengenalkan para mahasiswa baru pada tuhannya. Bagaimana agar mereka mengenal Allah SWT dengan cara yang benar. Mereka juga harus dikenalkan kepada Rasulullah SAW, termasuk sikap dan perilakunya, untuk dijadikan contoh teladan. Tidak cukup hanya sampai disitu, para mahasiswa baru harus dikenalkan para konsep Islam yang syamil (lengkap) dan shahih (benar), agar mereka punya fikrah yang lurus. Ospek pun sekaligus berfungsi untuk menegaskan bahwa para mahasiswa itu harus hidup bukan semata-mata untuk mengejar materi, tapi juga harus hidup dengan nurani, etika dan akhlaq yang baik. Ospek seharusnya mampu menjadi mahasiswa itu sebagai manusia yang utuh, bukan sekedar robot-robot budak kurikulum yang hanya mengejar gelar dan topi sarjana.

Kepada mereka pun harus ditekankan semangat untuk mencari ilmu pengetahuan, disertai dengan pengarahan motivasi dalam menimba ilmu itu. Untuk apakah mereka mencari ilmu, adakah hanya sekedar menggugurkan kewajiban, atau sekedar biar punya gelar ijazah untuk kemudian kerja cari uang? Adakah hanya sekedar untuk tidak dibilang pengangguran?. Kalau hanya sekedar sampai disitu, tentu saja mereka akan sangat merugi.

Padahal seharusnya para mahasiwa diberikan motivasi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Sehingga mereka bisa betul-betul merasa punya peran dan mengerti betul peran yang mereka lakukan. Sehingga ketika mereka belajar menimba ilmu, tidak mengalami kegamangan atau pun disorientasi. Selama ini, meski sudah ada ospek dan sebagainya, disorientasi selalu menghantui para mahasiswa kita. Seringkali seorang mahasiswa sama sekali tidak tahu, mengapa dia harus kuliah. Untuk apa semua itu, atau apa target-target yang harus diseleaikan dalam kuliahnya itu.

Kalau sebuah ospek bisa dikemas dengan cara seperti ini, insya Allah akan menjadi sebuah terobosan yang baik. Tapi kalau ospeknya mirip gaya dunia ketiga, sebaiknya tidak perlu diikuti saja.

Wallahu a'lam bish-shawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber: http://www.eramuslim.com/ks/us/58/20815,1,v.html


Add a Comment