
Assalamu'alaikum wr. wb.
Ustadz, bagaimana Islam memandang orientasi kampus atau istilahnya
Osek? Sebagian kalangan memandang bahwa hal ini diperlukan untuk
menanamkan nilai-nilai kemahasiswaan, dan untuk berinteraksi/mengenal
angkatan baru, juga supaya ada kenangan yang dapat diingat. Bagaimana
pelaksanaan orientasi kampus di universitas-universitas Islam di timur
tengah? Adakah ospek yang Islami? Dan bagi para mahasiswa baru, apakah
hukumnya mengikuti ospek? Jawaban ustadz sangat kami nantikan.
Wassalam.
Firman
Jawaban:
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu 'ala rasulillah, wa ba'du
Meski tidak semua ospek berisi penggojlogan, tapi istilah itu memang
sudah lekat dengan aktiftias perpeloncoan, di mana kakak kelas pada
hari-hari itu berlagak jadi jagoan di depan adik-adik mahasiswanya. Ada
yang dikerjai, dibentak, dimaki, ditertawai, dihukum ini dan itu. Meski
para pelakunya sering kali berkilah bahwa semua itu dilakukan untuk
keakraban dan menjadi kebersamaan.
Kalau kita bandingkan ospek di negeri ini dengan di berbagai perguruan
tinggi maju di dunia Islam seperti Al-Azhar Mesir, atau Universitas
Islam Madinah, atau Universitas Islam Al-Imam Muhammad ibn Su'ud
Riyadh, maka kita tidak akan menemukan acara ospek seperti yang kita
kenal di sini. Namun kualitas lulusannya sudah diakui oleh dunia Islam
sejak lama dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Padahal dahulu mereka
tidak mengalami masa ospek.
Hal-hal seperti itu justru terasa aneh dan tidak sempat terlintas di
kepala mereka. Sebab memang tidak ada gunanya, baik dari sisi syariah
juga dari sisi muamalah, apalagi dari sisi keilmuan dan prestasi
belajar. Tanpa ospek-ospekan, perguruan tinggi disana memang telah
berhasil menelurkan para ulama dan ilmuwan di bidangnya. Dunia telah
mengakui keberadaan dan peran lembaga itu. Bukankah tujuan ini yang
lebih utama dari pada urusan yang kurang bermanfaat?
Hubungan antara mahasiswa lama dan mahasiswa baru ditumbuhkan dengan
semangat ukhuwah islamiyah yang baik, simpatik dan patut diteladani.
Sedangkan di negeri ini, nyaris setiap tahun jatuh korban, bahkan nyawa
pun harus melayang.
Sayang sekali karena semua itu untuk sekedar memuaskan 'libido'
kesenioran yang tidak jelas ujung pangkalnya. Apalagi ospek tidak
sebanding dengan kualitas lulusannya. Dan memang tidak akan pernah ada
pengaruhnya kepada prestasi para mahasiswa. Sungguh pilu di dada
melihat hal seperti itu. Tetapi heran sekali 'tradisi khas dunia
ketiga' itu masih selalu berulang tiap tahun. Atas nama keakraban,
persaudaraan, perkenalan, orientasi atau istilah-istilah lainnya. Kita
akui bahwa urusan bikin istilah, bangsa kita ini memang jagonya. Tapi
masalah kualitas pendidikan, kita ada di nomor belakang.
Kalau mau dibandingkan dengan akhlak Islam, seharusnya datangnya
mahasiswa baru harus dianggap sebagai tamu. Bukan sebagai budak yang
bisa dikerjai apa saja. Dan ajaran Islam telah menetapkan bahwa para
tamu wajib dimuliakan. Rasulullah SAW sendiri telah bersabda bahwa
orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir wajib memuliakan
tamunya. Membentak, menghardik, mengerjai, menghukum, mencaci-maki,
mengomeli, menzalimi bahkan sampai memukuli seorang tamu adalah
perbuatan dosa, pelakunya diancam dengan azab yang pedih. Maka
bagaimana mungkin kita yang mengaku muslim ini sampai hati melakukan
tradisi jahiliyah yang tidak berpahala tapi malah bikin dosa?.
Bagaimana tidak dosa, sementara Allah SWT telah berfirman dan
Rasulullah SAW telah bersabda?
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki
merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih
baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan
kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan
janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan
gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang
buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka
itulah orang-orang yang zalim.(QS Al-Hujuraat: 11)
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,
yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak
menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang
kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.(QS Al-Qalam:
10-13)
Dari Abdullah bin Amr ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Seorang muslim
itu adalah sosok yang orang muslim lainnya selamat dari lisan dan
tangannya." (HR Bukhari)
Siapa yang mengajarkan semua itu? Mengapa tradisi jahili seperti itu
harus dipertahankan? Apakah kita sudah menjadi hewan yang terpuaskan
libido kebahagiaannya bila melihat penderitaan orang lain? Kemana akal
dan dan moral kita? Apakah kita ingin disebutkan sebagai umat yang
membangkang, karena bisanya hanya menghidupkan tradisi para pendahulu
tanpa pernah bisa dengan cerdas berpikir bahwa nilai-nilai itu justru
bertentangan dengan Islam. Telah digambarkan di dalam Al-Qur'an:
Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah mengikuti apa yang diturunkan
Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab, "Cukuplah untuk kami apa
yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka
itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu
tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?(QS Al-Maidah: 104)
Ospek itu seharusnya diisi dengan acara yang mengenalkan para mahasiswa
baru pada tuhannya. Bagaimana agar mereka mengenal Allah SWT dengan
cara yang benar. Mereka juga harus dikenalkan kepada Rasulullah SAW,
termasuk sikap dan perilakunya, untuk dijadikan contoh teladan. Tidak
cukup hanya sampai disitu, para mahasiswa baru harus dikenalkan para
konsep Islam yang syamil (lengkap) dan shahih (benar), agar mereka
punya fikrah yang lurus. Ospek pun sekaligus berfungsi untuk menegaskan
bahwa para mahasiswa itu harus hidup bukan semata-mata untuk mengejar
materi, tapi juga harus hidup dengan nurani, etika dan akhlaq yang
baik. Ospek seharusnya mampu menjadi mahasiswa itu sebagai manusia yang
utuh, bukan sekedar robot-robot budak kurikulum yang hanya mengejar
gelar dan topi sarjana.
Kepada mereka pun harus ditekankan semangat untuk mencari ilmu
pengetahuan, disertai dengan pengarahan motivasi dalam menimba ilmu
itu. Untuk apakah mereka mencari ilmu, adakah hanya sekedar
menggugurkan kewajiban, atau sekedar biar punya gelar ijazah untuk
kemudian kerja cari uang? Adakah hanya sekedar untuk tidak dibilang
pengangguran?. Kalau hanya sekedar sampai disitu, tentu saja mereka
akan sangat merugi.
Padahal seharusnya para mahasiwa diberikan motivasi baik jangka pendek
maupun jangka panjang. Sehingga mereka bisa betul-betul merasa punya
peran dan mengerti betul peran yang mereka lakukan. Sehingga ketika
mereka belajar menimba ilmu, tidak mengalami kegamangan atau pun
disorientasi. Selama ini, meski sudah ada ospek dan sebagainya,
disorientasi selalu menghantui para mahasiswa kita. Seringkali seorang
mahasiswa sama sekali tidak tahu, mengapa dia harus kuliah. Untuk apa
semua itu, atau apa target-target yang harus diseleaikan dalam
kuliahnya itu.
Kalau sebuah ospek bisa dikemas dengan cara seperti ini, insya Allah
akan menjadi sebuah terobosan yang baik. Tapi kalau ospeknya mirip gaya
dunia ketiga, sebaiknya tidak perlu diikuti saja.
Wallahu a'lam bish-shawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.
Sumber: http://www.eramuslim.com/ks/us/58/20815,1,v.html
